Persiapan Diri Ibadah Haji Bukan Soal Biaya Haji Plus

Keberangkatan Ibadah Haji bukan hanya soal mempersiapkan biaya, melainkan juga perlu kesiapan batin. Bagaimanapun, niat haji—sebuah keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. merupakan hal yang penting, sebab menjadi kunci baik atau tidaknya sebuah ibadah—termasuk di sini: ibadah haji. Dalam perjalanannya, niat haji sendiri terkait erat dengan masalah ihram (niat ikhlas di dalam hati).

Berikut adalah hal-hal terkait persiapan haji yang wajib Anda ketahui Selain Biaya Haji Plus

Rukun Ibadah Haji

Merupakan kegiatan yang harus dilakukan dalam menunaikan ibadah haji. Dikatakan “harus” sebab bila tidak dikerjakan; maka hajinya akan dianggap tidak sah. Berikut adalah rukun haji yang wajib dilakukan:

Ihram

Pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji dengan memakai pakaian ihram, disertai niat haji atau haji di Miqat Makani.

Wukuf

Dilakukan di Arafah—yakni dengan cara berdiam diri, zikir, dan berdoa—pada tanggal 9 Zulhijah (waktu zuhur), hingga tanggal 10 Zulhijah (sebelum subuh)—baik dalam keadaan suci maupun tidak suci pada malam Iduladha. Adapun haji tanpa wukuf dianggap tidak sah, dan harus diulang lagi pada tahun berikutnya.

Tawaf Ifadah

Mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali—pada tanggal 10 Zulhijah. Selama putaran perjalanan, Tawaf Ifadah diikuti pula dengan berzikir dan berdoa kepada Allah Swt.

Sa’i

Berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Proses Sa’i sendiri dilakukan setelah Tawaf Ifadah.

Tahallul

Bercukur atau menggunting rambut setelah selesai melaksanakan Sa’i.

Tertib

Mengerjakan kegiatan di atas, sesuai urutan, tidak ada yang tertinggal, dan menyeluruh.

Wajib Ibadah Haji

Merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji—sebagai pelengkap rukun haji. Nah, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya memang akan tetap sah—namun harus membayar dam (denda).

Dalam prosesnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang, hingga ia diwajibkan untuk melaksanakan haji. Ketika seseorang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka ia dianggap belum wajib menunaikan haji.

Adapun syarat melakukan haji selain biaya haji plus adalah sebagai berikut:

Beragama Islam.
Berakal.
Dewasa, atau sudah melalui masa akil balig.
Orang bebas/merdeka (bukan budak).
Mampu, baik dalam hal biaya, keamanan, kesehatan, dan jaminan nafkah bagi keluarga yang ditinggal berhaji.
Waras atau sehat secara mental.

Setelah membaca syarat calon jemaah haji, berikut adalah beberapa hal yang termasuk dalam wajib haji.

  • Niat Ihram—untuk haji atau haji dari Miqat Makani; dilakukan setelah berpakaian ihram.
  • Mabit (bermalam) di Muzdalifah—dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah, dalam perjalanan dari Arafah ke Mina.
  • Adapun waktu bermalam ini berlangsung hingga setelah salat subuh—atau sebelum matahari terbit.
  • Jamrah Aqabah—dilakukan pada tanggal 10 Zulhijah. Tujuh butir kerikil dilontarkan/dilemparkan berturut-turut sembari mengangkat tangan. Adapun setiap kali melempar kerikil, jemaah akan berkata, “Allahu Akbar, Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”.
  • Mabit (bermalam) di Mina—pada hari Tasyrik; yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.
  • Melontar jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah—pada hari Tasyrik; yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.
  • Tawaf Wada’—dilakukan sebelum meninggalkan kota Mekkah. Disebut juga tawaf perpisahan.

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji

  1. 1 Melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan

Bisa dimulai sejak awal bulan Syawal—yakni dengan mandi sunah, berwudu, mengenakan pakaian ihram, dan berniat haji, dengan mengucapkan, “Labbaik Allahumma hajjan”—yang berarti “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji.”

Setelahnya, jemaah akan langsung berangkat menuju Arafah, dengan terlebih dulu membaca talbiah atau rangkaian doa haji untuk menyatakan niat, “Labbaik Allâhumma labbaik, labbaik lâ syarîka laka labbaik, inna al-hamda, wa ni’mata laka wa al-mulk, lâ syarîka laka”—yang berarti “Aku datang ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu; Aku datang, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang; Sesungguhnya segala pujian, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milik Engkau; tiada sekutu bagi- Mu”.

  1. 2. Wukuf atau berdiam diri di Arafah

Dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni salat jamak taqdim dan qashar zuhur-asar, berdoa, berzikir bersama, membaca Alquran, salat jamak taqdim dan qashar magrib-isya.

Di sini, yang terpenting adalah berdoa; dilakukan sambil mengangkat tangan. Doa apa saja bebas—dan tetaplah berdoa hingga matahari tenggelam.

  1. 3 Mabît di Muzdalifah

Waktunya berkisar setelah tengah malam, hingga sebelum matahari terbit (subuh), dengan waktu sesaat setelah tengah malam, hingga sebelum matahari terbit (subuh). Setibanya di Muzdalifah bisa langsung salat magrib dan isya; dengan jama’ takhir dan qasar—magrib yang dilakukan di waktu isya tetap sebanyak tiga rakaat, dan isya sebanyak dua rakaat.

Setelahnya, Anda bisa mengambil batu kerikil sejumlah 49 atau 70 butir untuk melempar jamrah di Mina (sebenarnya jemaah juga dibolehkan untuk memungut batu berukuran biji kacang di mana saja—entah di Mina atau perjalanan menuju Mina); melakukan salat subuh di awal waktu—yang dilanjutkan dengan berangkat menuju Mina.

  1. 4 Melontarkan jamrah ‘aqabah

Dilakukan di bukit Aqabah—pada tanggal 10 Zulhijah; yakni dengan tujuh butir kerikil, seusai matahari terbit. Ketika melontarkan—jadikan Mekkah ada di sebelah kiri, dan Mina di sebelah kanan.

Lemparkan batu sembari mengucap “Allah Akbar”—dan usahakan agar lemparan masuk ke dalam kolam. Jika meleset, lemparan bisa diulang kembali.

  1. 5 Tahallul

Tahallul awal, bisa dilaksanakan setelah selesai melontarkan jamrah ’aqabah—dengan cara mencukur atau memotong rambut, minimal sebanyak tiga helai. Bagi wanita, memotong rambut bisa dilakukan dengan gunting; setidaknya dengan ukuran sekitar satu ruas jari.

Setelah tahallul, jemaah boleh mengenakan pakaian biasa dan melakukan seluruh hal yang dilarang selama ihram (akan dijelaskan di poin selanjutnya)—kecuali berhubungan seksual.

  1. 6 Tawaf Ifadah

Lakukan tawaf sebanyak tujuh putaran, lalu lanjutkan dengan salat sunah sebanyak dua rakaat. Setelahnya, Anda bisa pergi atau mendatangi keran-keran air zam-zam untuk menyiram kepala, dan minum sebanyak-banyaknya.

Sesudahnya, kembalilah untuk mencium Hajar Aswad, atau lambaikan tangan pada garis lurus dengan Hajar Aswad. Jemaah yang belum menunaikan tawaf Ifadah, maka harus melakukan kembali tawaf Ifadah dan Sa’i, dilanjutkan dengan tawaf Wada’ sebelum meninggalkan Mekkah dan pulang ke daerah asal.

  1. 7 Mabît di Mina

Kembalilah ke Mina untuk bermalam selama dua atau tiga hari. Selama tiga hari tersebut, salat zuhur, asar, magrib, dan isya dikerjakan secara qasar.

Setelahnya, jemaah berangkat ke tiga jamrah untuk melontar—dengan mengambil batu di mana saja, sebanyak 21 buah. Pergilah ke tempat pelemparan dan lempar tiga jamrah tersebut, dimulai dari Jamrah Shughra (dekat Masjid Khoif), Jumarah Wustho, dan Jamrah Kubro, sebanyak tujuh lemparan/tujuh kali.

Rangkaian kegiatan ibadah haji sebetulnya telah selesai seiring usainya melontarkan jamrah. Jemaah diwajibkan meninggalkan Mina dan kembali ke Mekkah pada tanggal 12 Zulhijah. Bila ada jemaah yang masih berada di Mina ketika magrib, maka ia harus bermalam kembali.

  1. 8 Tawaf Wada’

Lakukan tawaf Wada’—namun dengan menggunakan pakaian biasa. Anda bisa berdoa di Multazam (tempat antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah) sebelum keluar dari Masjidil Haram. Berdoalah sebanyak-banyaknya—tanpa keharusan mengangkat tangan.

Sampailah pada akhir dari tata cara haji. Nantinya, begitu tiba di daerah asal, disarankan untuk jangan langsung ke rumah, melainkan terlebih dulu mengunjungi masjid untuk melakukan salat.

Hal-hal yang Tidak Boleh dilakukan Saat Menunaikan Ibadah Haji
Berikut adalah beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat menunaikan ibadah haji, yakni ketika seseorang sudah mengenakan pakaian ihram, dan sudah berniat melakukan ibadah haji:

  • Melakukan hubungan seksual—atau apapun yang bisa mengarah pada perbuatan/hubungan seksual.
  • Melakukan maksiat/perbuatan tercela.
  • Bertengkar.
  • Pada kaum pria, dilarang mengenakan pakaian dengan jahitan/berjahit dan menggunakan tutup kepala.
  • Bagi kaum wanita, dilarang menutup muka dan dua telapak tangan.
  • Memakai parfum atau wewangian; termasuk di antaranya menggunakan pakaian yang dicelup dan mempunyai bau harum.
  • Memaki khuff (kaus kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki).
  • Melakukan pernikahan atau akad nikah.
  • Memotong kuku.
  • Mencukur atau mencabut rambut atau bulu badan yang lain. Hal ini baru boleh dilakukukan setelah selesai melaksanakan Sa’i.
  • Membunuh binatang buruan dan/atau memakan daging binatang buruan.
  • Melontar Jamrah Aqobah ketika hari raya.
  • Tawaf yang diiringi dengan Sa’i.

Untuk info lebih lengkap biaya Haji Pus di Arminareka Perdana bisa menghubungi WA/SMS : 089-859-493-55