Kebutuhan Nutrisi Si Kecil Yang Harus Tercukupi

Anak yang sehat dan cerdas membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Seperti orang dewasa, Si Kecil akan makan ketika lapar dan berhenti ketika ia merasa kenyang. Terkadang orangtua khawatir karena anak makan dalam jumlah sangat sedikit, terutama jika dibandingkan dengan porsi orang dewasa. Kebutuhan nutrisi si kecil memang harus Anda perhatikan dengan serius. Namun, ingatlah bahwa porsi anak perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan tubuhnya dalam mencerna makanan.

Untuk mengetahui apakah nutrisi yang terkandung di dalam makanan Si Kecil sudah cukup, Anda perlu memberikan perhatian lebih pada jenis makanan yang dipilih Si Kecil.  Pada jam makan, sediakan pilihan makanan yang berasal dari berbagai sumber makanan, seperti  biji-bijian utuh atau serealia. Selain itu sediakan pula sayuran berwarna hijau, merah, orange, jagung, kacang-kacangan, kentang atau jenis sayuran lain seperti kubis, bit, toge, asparagus, jamur, tomat, dan terong.

Ajak anak untuk memakan makanan yang berbeda-beda dengan memberi contoh secara langsung. Terapkan hal ini secara rutin, terutama pada anak yang tergolong picky eater. Perlu juga diingat meskipun suatu makanan berada dalam 1 golongan, kandungan nutrisinya tidak selalu sama misalnya, makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi dan ubi tentu memiliki kandungan nutrisi yang berbeda.

Beberapa Macam Kebutuhan Nutrisi Si Kecil

Sebagai orangtua Anda memang harus mengetahui beberapa jenis nutrisi penting yang seringkali kurang tercukupi, diantaranya berikut ini;

  • Kalsium

Kalsium membantu pertumbuhan tulang dan gigi, ikut mengatur detak jantung, fungsi otot, dan proses pembekuan darah. Sebagian besar kalsium tersimpan di tulang. Jika Si Kecil tidak mendapat cukup kalsium dari makanan, tubuhnya akan menggunakan kalsium yang tersimpan di dalam tulang. Jumlah kalsium yang dibutuhkan anak usia 0-6 bulan adalah 200 mg, 7-11 bulan sejumlah 400 mg, dan 1-3 tahun sejumlah 500 mg.

  • Vitamin D

Vitamin D berperan dalam penyerapan kalsium dalam tubuh, serta memaksimalkan pertumbuhan tulang. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan anak mengalami suatu kondisi yang disebut rakhitis atau tulang rapuh dan lunak serta bisa memicu osteoporosis lebih dini.

Anak membutuhkan minimal 400 IU vitamin D per hari. Vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari, makanan seperti produk susu, sereal, ikan salmon, tuna, produk yoghurt, dan jus jeruk.

  • Serat

Konsumsi serat dapat membuat Si Kecil merasa lebih kenyang, membantu mencegah konstipasi, hingga mencegah penyakit seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung saat beranjak dewasa. Pada 6 bulan pertama kehidupan, bayi belum memerlukan konsumsi serat. Pada usia 6-12 bulan, serat seperti sayuran hijau, gandum dapat mulai diperkenalkan sebanyak 5 gram sehari.

  • Kalium

Kalium menjaga fungsi normal jantung dan otot, menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh, berperan dalam produksi energi, dan membantu pertumbuhan tulang. Kalium banyak didapatkan dari buah-buahan, sayur mayur, produk susu dan olahannya, daging, seafood, dan gandum. Semakin panjang proses pengolahan suatu makanan, maka kalium yang terkandung semakin berkurang. Jumlah yang disarankan untuk anak usia 0-6 bulan adalah 500 mg, 7-11 bulan sejumlah 700 mg, dan 1-3 tahun sejumlah 3000 mg.

Memenuhi Kebutuhan Nutrisi Si Kecil Agar Lebih Aktif

Selama enam bulan pertamanya, si kecil seakan berubah dari bayi kecil yang mudah lapar dan mengantuk, menjadi bayi sibuk yang bisa duduk tegak, meraba-raba benda di sekelilingnya, serta mencoba berinteraksi dengan dunia sekitarnya. ASI merupakan sumber terbaik untuk memenuhi nutrisi penting yang ia butuhkan pada periode lonjakan pertumbuhannya. Namun bagi Ibu yang tidak dapat memberikan ASI, sebaiknya berikan susu formula yang telah diperkaya dengan nutrisi yang terdapat pada ASI, untuk mendukung pertumbuhannya.

Selama lima bulan ke depan, dunia si kecil seakan terbuka dengan pesat. Dari yang awalnya hanya mampu melihat objek setinggi kaki orang dewasa, kini perkembangan visualnya akan meningkat dan ia mulai mampu memperhatikan objek yang bergerak melintasi ruangan. Si kecil pun mulai memahami konsep sebab-akibat, misalnya saja ia tersenyum dan Ibu akan tersenyum ke arahnya. Selain itu, perkembangan memorinya akan semakin mengalami kemajuan menjelang akhir periode ini.

Semua kemajuan di atas dapat terjadi berkat koneksi antar sel otak yang meningkat dengan kecepatan tinggi. Pada puncak periode ini, otak si kecil membentuk dua juta koneksi baru setiap detiknya.

Berbagai nutrisi penting sangat dibutuhkan untuk mendukung proses pertumbuhan tersebut, seperti protein, zat besi, seng, selenium, yodium, asam folat, vitamin A, kolin, dan rantai panjang asam lemak tak jenuh ganda (seperti DHA dan ARA). Di samping itu, terapkan pola makan dengan kandungan lemak sekitar 50 persen untuk mempertahankan produksi mielin, suatu zat pelindung yang melapisi ujung saraf, yang memungkinkan untuk proses penyampaian sinyal antar sel otak jadi lebih cepat.

Pada bulan-bulan pertama, kebutuhan nutrisi si kecil terutama cadangan zat besi yang yang didapatnya saat berada di dalam rahim masih mencukupi. Namun, lama-kelamaan cadangan tersebut akan berkurang, sehingga ia pun membutuhkan asupan tambahan. Beberapa ahli merekomendasikan suplemen zat besi dari makanan bayi yang diperkaya dengan zat besi, mulai usia 4 sampai 6 bulan untuk bayi yang sedang menyusui, mengingat kecilnya jumlah zat besi yang diberikan oleh ASI.  Sejumlah penelitian menemukan hubungan langsung antara kekurangan zat besi dengan gangguan perkembangan otak, akan tetapi konsumsi zat besi yang berlebihan juga dapat membahayakan.

Leave a Comment